Perkenalkan, namaku sekarang Bayu. Usiaku saat itu 28 tahun dan ceritanya bermula saat aku baru saja merantau ke Bandung di awal tahun 2023. Aku mengontrak rumah kecil yang lumayan nyaman.
Di sekitar kontrakan, aku sering melihat gadis manis, namanya Cinta, yang masih sekolah SMA kelas 2 (usianya 17 tahun). Dia punya bodi yang bikin mata aku enggak bisa lepas: kulit bersih, tinggi kira-kira one hundred sixty five cm dengan berat best fifty two kg.
Keluarga Ayah kandungnya itu tetanggaku. Cinta sendiri tinggal sama Ibu kandungnya, tapi dia rutin sebulan sekali datang ke rumah ayahnya buat minta duit sekolah. (klik disini untuk nonton movie free of charge). Ayah tirinya lagi enggak kerja, makanya Cinta sering ke sini. Tiap dia datang, aku pasti curi-curi pandang, gila memang cantiknya.
Suatu sore di bulan Agustus, Mama tirinya yang baik banget sama Cinta, minta tolong aku buat nganterin dia pulang. Soalnya, Cinta memang jarang banget nginep di rumah Ayahnya.
“Bayu, tolong anterin Cinta pulang ya ke rumah Mamanya di daerah Dago,” kata Mama tirinya. “Aku lagi repot banget nih.”
Aku iyakan. Saat itu aku jadi tahu rumah Ibu kandung Cinta. Ibunya, sebut saja Tante Rina—eh, Mama Rina sekarang—menyambut aku dengan ramah. Sebelum aku pamit, Mama Rina maksa aku buat sering-sering main ke sana.
“Besok lusa jangan lupa datang, Yu. Anggap aja rumah sendiri,” pesannya.
Aku sering datang ke sana. Sampai akhirnya, Mama Rina minta aku buat menginap! Anjing, aku kaget tapi ya kuterima juga. Dia juga yang minta aku enggak panggil Tante lagi, tapi Mama.
Saat itu Cinta enggak ada. Mama Rina cerita kalau Cinta ngekos di daerah Dipati Ukur. Aku enggak tanya alasannya, pokoknya terima info aja.
Keesokan harinya, aku pulang kerja dan langsung ke rumah keluarga baru ini. Nah, hari itu Cinta ada di rumah! Dia kelihatan ceria banget. Yang aneh, dia enggak kaget sama kehadiran aku. Malah kami langsung akrab kayak abang-adik kandung.
Sejak itu, aku jadi sering di sana, dan Cinta pun enggak balik ke kosan lagi, lebih sering di rumah. Aku tidur di ruang tamu di depan TV, karena rumah kontrakan ini cuma punya satu kamar yang dipakai Mama Rina, Cinta, dan adik perempuannya, Dina.
Malam itu, aku pulang kerja larut banget karena ada lembur. Pas aku masuk, Mama Rina dan Dina sudah tidur pulas di depan Television set. Aku lapar, jadi aku langsung ke dapur buat makan.
Selesai makan, aku berniat mau pulang ke kontrakan aku.
“Mau kemana kamu malam-malam begini, Yu?” tegur Mama Rina yang tiba-tiba bangun.
“Pulang, Ma,” jawabku sambil mikir keras, Mama Rina mau apa lagi nih.
Dia malah bilang, “Sudah terlalu malam, Yu. Sudah sana tidur sama adikmu. Kasihan Dina sudah terlalu pulas kalau disuruh pindah.”
Anjing! Tidur sama Cinta? Jantung aku langsung jedag-jedug kenceng. Aku pura-pura ogah, sempat nyalain Tv set bentar, pencet-pencet remote enggak jelas, baru aku matiin lagi dan jalan ke kamar.
Pas masuk kamar, harum tubuh Cinta langsung menusuk hidung aku. (klik disini untuk nonton movie free of charge) Dia tidur pulas banget. Aku agak sungkan, jadi aku ambil bantal guling besar buat jadi pembatas di ranjang.
Aku enggak bisa tidur, pikiran aku kemana-mana. Bolak-balik, aku lihat Cinta selalu memindahkan dan memeluk guling pembatas itu dengan posisi membelakangi aku. Aku ambil, aku taruh lagi di tengah, dia pindahin lagi!
Cih, sengaja apa gimana nih bocah?
Karena terus-terusan, aku akhirnya duduk dan lihat wajah Cinta yang lagi tidur. Wajahnya cantik banget, bikin aku enggak tahan.
Aku cium bibirnya. Agak gemetar, sentuhannya lembut banget.
Tak terduga! Cinta langsung membalas ciuman aku, matanya masih terpejam. Kami langsung berpagutan, lidah kami saling key.
Lama kami ciuman. Tangan aku mulai meremas lembut teteknya yang lumayan gede. Entah ukuran 34 atau 36, yang jelas di mata aku, Cinta itu montok dan seksi banget.
Tangan Cinta melingkari leher aku, tapi enggak erat. Aku bebas pindah ciuman dari bibir, ke pipi, dan aku jilat kuping kanannya.
“Ssssttt…. Ssssttt…..” Desisan lembut keluar dari bibir ranumnya.
Aku tajamkan pendengaran, takut suara desahannya kedengaran ke luar. Tapi aku pastikan, semua aman.
Aku meremas payudara Cinta lumayan lama. Rasa penasaran aku makin tinggi, aku coba masukkan tangan aku ke balik T-shirt ketat putihnya dari bawah. Dia pakai scorching pants putih juga.
Sambil meraba payudara yang masih terbungkus bra krem itu, ciuman aku turun ke dagu dan leher kirinya.
“Sssst…. Sssstt….. Ahhh… Sssstt…..” Cinta makin mendesah kencang waktu aku ciumi leher dan remas payudaranya. Matanya kadang kebuka, tapi lebih sering terpejam, menikmati.
Puas dengan wajahnya, aku berani buka T-shirt-nya. Cinta angkat tangan tanpa penolakan, mempermudah aku melolosi bajunya.
Anjrit! Mata aku melotot. Pemandangan di depan aku indah banget. Kulitnya putih kayak porselen baru, dua gunung kembarnya terbalut bra krem. Aku kagum.
Aku langsung cari kaitan branya yang ternyata ada di depan, lalu aku singkapkan ke kiri dan kanan.
Aku enggak nunggu lama, langsung aku kecup puting dada kirinya. Tangan aku mengusap lembut payudara kanannya.
“Aduh Kaaaak…..Ssssssst Ahhh” panggil dia dengan mata terpejam, makin mendesah keenakan.
Aku sedot-sedot putingnya, tangan kanan aku meremas payudara kanan, lalu bergantian, terus-menerus selama beberapa menit.
Serangan aku lanjut ke bawah. Aku ciumi sekujur tubuhnya, dari perut datar ke pusarnya. (klik disini untuk nonton movie gratis) Mataku tertuju ke celana kolornya. Aku tarik perlahan ke bawah. Kaki jenjangnya terlihat indah, dan sekarang dia cuma pakai celana dalam putih berbahan sangat halus.
Jantung aku dag-dig-dug waktu aku buka celana dalam itu perlahan. Aku mau lihat apa yang ada di balik sana.
Pemandangan menakjubkan terpampang di depan mata aku. Gundukan kecil dengan bulu hitam yang rapi menghiasi vaginanya.
Aku usap bukit kecil itu pakai telapak tangan, ibu jari aku sedikit menekan permukaan bibir vaginanya.
Cinta terlihat menggelinjang sedikit saat ibu jari aku menekan-nekan lembut bagian atas bibir vaginanya.
Sementara itu, rudal aku sudah berontak di sarangnya. Keras dan hangat banget di dalam celana dalamku. Aku segera lepas kaos yang aku pakai.
Aku dekatkan mulut aku ke arah serambi lempit indah itu, lalu aku jilat dari bawah ke atas.
“Aaaaaahhh… Ssssstttt…” Erangan Cinta makin lirih, mendesis kayak orang kepedasan.
Aku buka sedikit serambi lempit yang masih sangat rapat itu. Kelihatan belahan daging merah segar di dalamnya. Cuma bagian kecil yang bisa aku buka, dan lidah aku langsung masuk ke lubang kecil itu.
Aku jilat-jilat pelan dan teratur. Vaginanya mulai mengeluarkan cairan pelumas yang membasahi serambi lempit dan bulu-bulunya.
“Sssssttttt….. Ahhh sssssttttt kakaaaaakkkkk…..,” erangnya.
Aku naikkan tempo jilatan aku. Cinta makin menggelinjang, dan cairan cintanya keluar lumayan banyak.
Aku seruput cairan itu, sambil sesekali lidah aku menjilat bagian dalam vaginanya. Aku tahu, dia orgasme pertama kali.
“Sssssttttt….. Aduuuhhhh… Ahhh sssssttttt kakaaaaakkkkk…..,” erangnya lagi lirih.
Setelah puas mulut aku bermain, aku langsung tanggalkan celana pendek dan CD aku barengan.
Aku coba masukkan kontol aku ke liang vaginanya. Lubang vaginanya masih terasa seperti tak berlubang setelah tangan aku lepas dari sana.
Aku usap-usapkan kepala kontol aku yang diameternya sekitar 4 inci dengan panjang seventeen sentian.
Cinta makin menggelinjang kegelian. Matanya sayu memandang ke aku. Mungkin dia masih lemas setelah orgasme pertamanya tadi.
Aku pegang pinggul Cinta erat. Aku enggak mau nunggu lagi. Aku harus masuk sekarang juga. Aku taruh ujung kontol aku tepat di lubang kecilnya, kasih sedikit tekanan.
“Kak… pelan-pelan…” bisik Cinta lirih, suaranya kayak ketakutan, tapi juga ada nada penasaran.
“Sssst… tenang, Sayang,” balasku sambil mencium keningnya.
JLEB!
Aku dorong perlahan. Sedikit saja. Kontol aku ketemu batas, terasa sesak banget. Cinta teriak pelan, suaranya tertahan di tenggorokan.
“Aaaaaah… Sssssttt… Sakiiit Kaaak…”
Aku berhenti sebentar. Aku tatap matanya yang berair.
“Sabar ya, Sayang… Aku tarik lagi ya.” Aku tarik sedikit. “Sekarang coba kamu dorong pinggulmu ke aku, sedikit aja…”
Cinta mengangguk, dia ikutin kata-kata aku. Dia dorong pelan pinggulnya ke atas. Aku ambil kesempatan itu.
JLEBB! Bresss!
Aku dorong kontol aku sekuat yang aku bisa, masuk lebih dalam. Ada bunyi robekan kecil dan Cinta teriak lebih keras, tapi cepat-cepat dia tutup mulutnya pakai tangannya.
“Huuh! Ssssttt… Sakiiit! Berdarah Kaaak!”
“Iya, Sayang… sebentar lagi enak… ini pertama, makanya sakit…” (klik disini untuk nonton film gratis) Aku cepat-cepat cium bibirnya lagi, buat mengalihkan rasa sakitnya. Aku jilat air matanya yang jatuh ke pipi.
FUCKKK! Di dalamnya sempit banget! Rasanya kayak masuk ke lubang yang benar-benar perawan. Kontol aku kejepit dan terasa panas.
Aku tahan sebentar. Aku biarin kontol aku diam di dalam, biar Cinta terbiasa sama ukurannya. Dia melenguh tertahan. Aku mulai bergerak. Pelan, sangat pelan. Hanya maju mundur sedikit-sedikit.
“Ugh… Ahh… Sssstt…”
Cinta mulai merespons. Tangannya yang tadinya menahan di dada aku, sekarang pindah ke punggung aku, mencengkeram erat.
Aku percepat tempo aku. Gerakannya mulai naik turun. Deg! Deg! Plok! Plok! Suara kontol aku yang menghantam kontol dia mulai terdengar samar di keheningan kamar.
“Aduh Kaaak… lebih cepet… ahhh… lebih dalem… Plok! Plok! Plok!”
Cinta makin gila. Dia mengangkat pinggulnya, meminta lebih. Aku putar posisi. Sekarang dia di atas aku.
“Sekarang kamu yang major, Sayang. Gerak!”
Dengan malu-malu, Cinta mulai mengayunkan pinggulnya. Srettt… Srettt… Pelumasnya udah banyak, bikin gerakan jadi lebih lancar. Dia naik turun di atas kontol aku. Pemandangan putingnya yang bergerak-gerak di depan wajah aku bikin aku makin sange.
Aku balik lagi posisi kami. Sekarang aku yang geber dia habis-habisan. Aku dorong sampai ke pangkal.
“Aaaaah! Mmmmmh! Plok! Plok! Plok! Kaaakkk… enaaak! Ahhh!”
Dia teriak, enggak peduli lagi sama suara di luar. Aku juga udah enggak peduli. Aku dorong dengan ritme yang makin cepat. Aku pegang pinggulnya, aku jadikan dia kayak dolly kesayangan.
Aku sudah di ambang batas. Kontol aku mau meledak. Aku rasain Cinta juga makin tegang.
“Aku keluar di dalem ya, Sayang!”
“Iyaa! Keluarin aja Kaaak! Aaaaaahhh!”
Aku dorong tiga kali terakhir, paling kencang.
BRUSSHHH!
Aku crot di dalam vaginanya. Panas, kental, tumpah ruah. Kontol aku berdenyut keras di dalam. (klik disini untuk nonton film gratis) Cinta menjerit panjang, tubuhnya kejang, dan dia ambruk more info di dada aku.
“Hah… Hah… Capek Kaaak…” bisiknya.
Kami berdua terengah-engah, keringat membanjiri tubuh. Kontol aku masih di dalam, rasanya anjrit banget.
Aku cium dia lama. Dia balas ciuman aku.
“Makasih ya, Kak,” katanya sambil tersenyum nakal.
“Sama-sama, Sayang. Mau lagi?”
Cinta enggak jawab, dia cuma peluk aku erat, kepalanya bersandar di dada aku. Kontol aku yang tadinya mau loyo, bangun lagi di dalam vaginanya.
“Mmmmmh… Ssssttt… Aku mau tidurin kamu lagi…”
“Eeeh… belum lima menit… Ssssttt…”
Kami tidak jadi tidur. Aku balik badan dan mencium bibirnya lagi, memaksa mulut kami bertemu. Dia membalas dengan lebih liar, lidah kami saling melilit, napas kami menderu cepat. Tanganku merayap lagi ke payudaranya, meremas kuat-kuat, mencari gairah yang baru saja padam.
“Mmmmmh… Jangan berhenti Kaaak…” rengek Cinta.
Aku cabut kontol aku dari vaginanya, terdengar bunyi kecipak basah. Dia merintih. (klik disini untuk nonton movie free of charge) Aku balikkan tubuhnya, posisi doggy design.
“Begini lebih enak, Sayang. Kita coba yang baru.”
Cinta mengangguk setuju, pantatnya yang montok menantang di depan wajah aku. Aku ludahi tangan aku, membasahi kepala kontol aku yang masih kaku.
JLEB!
Kali ini lebih mudah masuknya, lubangnya sudah basah dan molor.
“Aduh… Mmmhh… Asik Kaaak… Lebih dalem!”
Aku geber dia lagi, kali ini dengan tempo yang gila.
Plok! Plok! Plok! Deg!
Aaaaaahhh! Sssssstttt! Kakaaaaakkk!
Cinta menjerit kegirangan. Dia pegang sprei, badannya maju mundur mengikuti irama kontol aku.
Kami mengulanginya lagi, dan lagi. Sampai subuh menjelang, aku sudah crot tiga kali, dan Cinta sudah orgasme tak terhitung. Tubuh kami ambruk, saling berpelukan, tertidur dengan kontol aku masih lemas di dalam dirinya, sebagai tanda kepemilikan.